Monday, August 31, 2009

Beteeeee!!!

0

Masih Di Disable aja ich.....
whoaaaaaa!!!


Memory and Hates (with s)

0
Saya benci menjadi korban suatu penghianatan. Saya benci menjadi korban penghinaan. Saya muak dengan segala hal manis mereka berikan pada saya, karena saya tahu, itu semua hanya awalan saja, setelah itu saya akan kembali dihianati, dibuang dan bahkan ditertawai. Itulah yang saya takutkan dari hidup ini. Bagi saya hidup adalah menang. Saya tidak mau menerima kekalahan. Lalu saya takut. Saya terlampau tempramen menghadapi semua itu. Karena itu hidup saya cenderung lebih berhati-hati. Bahkan berprasangka negative mungkin. Namun 8 dari 10 prasangka negative saya adalah benar. Saya bukan hanya makhluk lemah yang akan menyerah ketika saya dihadang oleh manusia manusia yang berdiri didepan saya. Namun saya juga bukan manusia yang kuat dan kebal akan penghianatan dan cobaan didepan saya. Lalu saya apa? Ya, saya hanya seorang wanita yang punya rasa muak atas semua yang tersaji dengan hangat disini. Saya muak, bahkan ingin meuntahkan apa yang telah saya telan sebelumnya. Tapi saya berani mengakui bahwa yang disajikan itu benar-benar nikmat, benar benar lezat, oleh sebab itu tadi saya melahapnya cepat cepat sehingga yang tersisa hanya rimah rimahnya saja.

Sekarang saya haus dengan jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang ada dibibir saya. Sudah sekian tahun saya menelan penghinaan, pujian, makian, cacian, sumpah serapah, dan sudah sekian tahun pula saya memuntahkannya. Saya mulai heran, apakah sisi baik dan sisi jahat setiap manusia harus saling terjang apabila baru saja melakukan sesuatu hal yang esensial bagi orang banyak. Atau keduanya hanya diam sehingga timbul keheningan didalam dan kericuhan diluar sana. Semuanya sama, saya mengambil sebuah benang yang disangka orang sebagai benang merah dari pernyataan sekaligus pertanyaan disana, ya, satu kata. MUNAFIK. Akankah mimpi buruk ini terus berlanjut hingga bertahun-tahun yang akan datang? Atau, saya sakit dan akan mati?

Tentang Olenka

2
Saya telah membaca sebuah novel karya sastrawan besar Budi Darma berjudul Olenka. Entah mengapa saya merasakan hebat ketika telah usai membacanya. Berbeda ketika pertama kali saya memulai membaca novel itu. Pada awalnya saya merasa novel itu terlalu klise, mungkin karena saya saat itu telah menganggap olenka pasti memiliki nilai satra yang luar biasa tinggi dan diluar jangkauan otak saya. Lama kelamaan saya mulai merasa santai, tidak jenuh seperti yang mulanya saya sangkakan. Saya mulai tenggelam dalam per cerita Fanton Drummond, saya begitu menaruh hati padanya dan mulai jatuh cinta. Maka saya belajar banyak dari Fanton, dia begitu mendoktrin saya untuk terus belajar bercerita. Saya pun menjadi seorang plagiat, mencoba menulis sesuatu yang bernafas Olenka, gaya tulisan Budi Darma. Saya hanya Berusaha untuk belajar, setiap kata dalam cerita Olenka membuat saya bergairah untuk belajar menulis. Saya bukan apa apa dan bukan siapa siapa, namun saya memiliki keinginan untuk menjadi apa dan siapa. Maka sekarang saya menulis.


Budi Darma mengajarkan saya banyak, pertama kali saya mengenal Budi Darma adalah ketika saya membaca kumpulan cerpennya yang berjudul Orang-orang Bloomington. Saya tertarik dan mulai belajar menulis. Saya sama sekali tidak pernah memiliki bakat dan kemampuan untuk menulis, bahkan bisa dibilang saya hampir tak tahu sama sekali tentang satra. Diantara kemiskinan itulah saya mulai tertarik untuk belajar menulis. Saat ini saya tidak mungkin menciptakan sesuatu yang terlampau mewah seperti karya-karya Budi Darma. Namun saya tak peduli, saya hanya ingin menjadi seorang penikmat. Yang bukan hanya menikmati semua karya yang telah diciptakan oleh orang orang berbakat dan berkemampuan, namun saya juga bisa menikmati menjadi seorang pencipta walau karyanya tak dilirik oleh orang-orang.

Kembali kedalam novel Olenka, pada awalnya saya malah sama sekali tidak jatuh cinta kepada Olenka maupun Fanton Drummond. Bagi saya tokoh olenka hanyalah sebuah khayalan. Jelas-jelas terlihat bahwa tokoh olenka hendak menjadi seorang superwoman atau seorang nabi perempuan (seperti Zarathustra dalam Thus Spoke Zarathustra oleh Nietzsche, namun berbeda cerita dan makna). Terlampau mengada-ada. Karakternya sempurna dan setiap gerak geriknya membuat saya cemburu. Saya gelisah dan akhirnya saya membenci Olenka. Seandainya saya benar-benar bisa menghadirkan Olenka di hadapan saya, maka mampuslah dia. Akan saya terjang dan langsung menikam jantungnya karena bagi saya dia adalah seorang rival yang sulit untuk saya taklukan. Saya benci sesuatu yang sempurna. Karena saya tidak sempurna. Olenka telah merusak psikologis orang banyak, ia adalah jelmaan iblis yang telah mencuri jiwa-jiwa orang-orang. Benar kata Wayne Danton, dia adalah ular berbisa yang kapan saja mampu membuat mampus orang-orang yang ada didekatnya. Fanton Drummond, Steven, Wayne bahkan saya telah terkena bisanya. Mungkin beberapa dari kita yang membaca novel itu akan membenci Wayne, bukan membenci Fanton Drummond ataupun Olenka sendiri. Lain halnya dengan saya, saya malah membenci olenka yang nyatanya menjadi kunci dalam novel ini. Dia telah mempermainkan emosi orang banyak termasuk para pembacanya. Maka saya menyimpulkan bahwa inilah kesuksesan seorang satrawan besar, Budi Darma. Olenka telah mempermainkan Fanton Drummond dengan amorfati yang dicetuskan seorang filsuf asal Jerman, Friedrich Nietzsche. Kadang kadang Olenka menunjukan bahwa dia adalah seorang yang sangat kuat dan tabah, kadang dia menunjukan bahwa dia memiliki kemampuan selayaknya laki-laki, kadang dia berkeluh bahwa hidupnya adalah suatu kesalahan dan terus berulang menjadi sebuah penderitaan yang berkepanjangan, kadang dia bercerita bahwa dirinya harus mengambil keputusan untuk meninggalkan orang lain demi kebahagian orang itu padahal sesungguhnya dia malah menyiksa dan pergi dengan keegoisannya yang tak beralasan dan terlampau klise, kadang dia berkisah tentang masa depannya yang suram, kadang dia menggurui orang lain dan menciptakan doktrin yang menempel terus didalam ingatan orang seperti Fanton Drummond, kadang dia menceritakan kejelekan orang untuk menutupi kejelekannya sehingga beberapa orang yang dia ceritakan akan dibenci orang-orang. Dialah Olenka yang saya benci, dialah inti dari kehancuran orang orang sekitarnya.
Lain halnya dengan Fanton Drummond, saya sempat sangat tidak tertarik kepadanya, bagi saya dia memiliki jiwa banci, yang terlampau menuruti keegoisannya dan mudah terpedaya oleh Olenka. Bagi saya, awalnya Fanton Drummond hanya penyentara dan kaki tangan olenka. Fanton Drummond tak lebih baik dari budak yang dibayar dengan doktrin doktrin yang keluar dari lidah bercabang Olenka. Fanton Drummond tak seperti seorang tokoh penting dalam Olenka. Dia berperan sebagai pemeran pembantu atau hanya seorang dalang dalam sebuah pertunjukan wayang. Seenaknya saja dia menyerah pada sebuah pemikiran yang akhirnya membuat dirinya tersiksa dan bosan. Dia hanya bagian dari cerita yang tak penting, saya sepakat dengan Wayne Danton dalam cerpennya yang berjudul Si Bisu dan Buku. Dia benar benar bisu, Fanton Drummond bisu karena telah terlampau banyak termakan ketamakan Olenka. Fanton Drummond adalah seorang yang mamiliki karakter lemah dan mampu begitu saja tersingkir dalam cerita.
Waktu itu bagi saya Wayne Danton begitu megah, pantas baginya telah memperlakukan Olenka seperti itu. Dia telah sadar terlebih dahulu siapa itu olenka. Maka dia memperlakukan olenka dengan seharusnya. Dia telah mencoba menyadarkan Fanton Drummond lewat cerpennya dan lewat ocehan-ocehannya yang menurut Fanton tak berarti. Namun Fanton Drummond sudah lama terkena bisa Olenka dan bisa-bisa itu menjadikannya lumpuh dan sudah tak mungkin diberi pertolongan lagi. Wayne Danton memiliki kemauan dan usaha yang baik dalam mengenal dirinya sendiri, dia mampu menjadi apa yang dia ingini dan telah menjadi mimpi buruk bagi Olenka. Saya menyukainya karena dia kuat, saya sempat jatuh cinta padanya. Namun masa itu berakhir dengan begitu cepat, karena terlampau tenggelam dalam cerita yang perlahan lahan menghilangkan Wayne Danton, saya pun melupakan kecintaan saya padanya. Dan mau tidak mau saya mengikuti aturan main, saya melanjutkan kisah yang belum sampai selesai.
Steven adalah objek, dia tidak sempat menjadi subjek. Namun dalam kehadirannya yang sangat sedikit itu dia telah menyita perhatian saya, diam-diam dia terus mengintip pelan-pelan ketika konsentrasi saya sedang penuh kepada Olenka, Fanton Drummond, Wayne, M.C. atau deskripsi-deskripsi lain yang telah digambarkan oleh Budi Darma. Dalam kebisuannya yang menjemukan dia telah mencolek simpati saya. Bukan hanya simpati, namun juga saya malah sempat merancang kisah selanjutnya dari novel ini. Saya telah mengarang sendiri dan akan menjadikan Steven kelak sebagai Subjek. Saya tidak akan tega membayangkan ketika tiba-tiba Steven mengintip-intip dengan wajah polos dan berharap dia akan menjadi subjek dalam cerita. Bagi saya Steven misterius, berbeda dengan Olenka yang terkesan misterius dan tertutup tetapi malah menggembar gemborkan kemunafikannya. Diam diam saya berharap suatu saat nanti saya dapat menggali dalam dalam karakter Steven, dan kemudian menjadikannya tokoh yang sangat penting.
Lalu saya mulai mencintai Fanton Drummond ketika Wayne dan Steven perlahan-lahan menghilang dalam cerita, saya tetap tidak bersimpati pada Olenka apalagi mengganggap dia hebat. Fantonlah yang menjadi pusat perhatian saya. Seperti yang telah saya kisahkan tadi, saya sempat muak dengan Fanton Drummond bersamaan dengan jiwa banci yang ia miliki. Lama kelamaan saya mengerti, Fanton Drummond hanyalah korban Olenka. Dan dibalik kelemahannya itu dia adalah seorang pemimpi yang setia. Seorang budak yang setia, seekor anjing rumahan yang akan menggonggong ketika majikannya akan diserang oleh orang lain. Fanton Drummond adalah seorang pecinta yang selalu mengikuti kata hatinya, walau kadang keegoisannya tak mampu untuk keluar karena tertimbun oleh kemegahan seorang Olenka. Fanton Drummond terombang ambing karena dia telah terlampau terperangkap oleh perasaannya. Namun Fanton Drummond terus berjalan seraya mencari belahan jiwanya yang hilang yang telah dibawa oleh Olenka. Kemudian saya menganggap Fanton Drummond adalah perpecahan dari kesetiaan, kekuatan dan kelemahan. Fanton Drummond bergejolak, Fanton Drummond adalah pemimpi yang akan terus mengejar mimpinya dan takkan pernah meninggalkan mimpinya seperti kebanyakan orang disekitar saya termasuk saya sendiri.
M.C. mengisi celah celah kehampaan Fanton dengan keangkuhannya. Namun bagi saya dia hebat. Berhati-hati dan memiliki loyalitas juga harga diri yang sebagian orang anggap tidak penting. M.C. tak pernah mengeluh, dia wanita yang lebih kuat dari Olenka bagi saya. Sayang, M.C. tidak begitu menarik perhatian saya, dia hanyalah wanita yang bagi saya terlampau membosankan, tidak menarik simpati dan hanya sebagai tamu dalam kisah ini. Namun saya menyukainya karena saya mengandai-andai M.C. adalah saya. Dalam kehidupan nyata bagi saya M.C. adalah duplikat saya.

Budi Darma memang hebat. Itu yang ada dalam pikiran saya ketika usai menyelesaikan menikmati Olenka. Bagi saya dia adalah guru yang tak terhingga harganya dalam proses pembelajaran menulis saya. Dia membangkitkan sekaligus mengajari saya bagaimana menikmati sebuah novel yang kaya akan ilmu. Saya mungkin berlebihan, namun saya berusaha menjadi orang yang jujur seperti yang beliau katakan dalam akhir bukunya,
“Sebetulnya, tanpa hambatan apa apa kehidupan ini akan menarik, selama kita dapat menemukan orang orang yang jujur dan berani berterus terang. Tugas pengarang memang menciptakan orang orang yang semacam ini. Setiap karya sastra yang baik pada hakekatnya adalah kisah berkecamuknya pikiran dan pandangan orang orang yang tidak malu malu mengakui siapa mereka sebenarnya” (Olenka, hal. 223, Budi Darma)
Saya menyukai karya karyanya, bagi saya karyanya adalah pengangkatan sisi individual manusia yang sekarang ini banyak terlupakan oleh manusia itu sendiri. Karyanya berisikan ilmu ilmu yang tersisip pada setiap cerita. Ceritanya mengalir dengan tenang, menjadikan para pembacanya merasa penasaran dan ingin terus menghabiskan langsung apa yang telah disajikan oleh Budi Darma. Dia mengangkat sisi yang banyak diabaikan oleh manusia dan jujur dalam setiap karyanya. Seperti judul “ Musim Dan Cacing” yang dikisahkan oleh Fanton Drummond dalam Olenka. Bagi saya cerita itu begitu “WAH”. Dalam kesederhanaan suatu kejadian, banyak sisi yang diangkat oleh Budi Darma. Pergejolakan hati setiap manusia itu digambarkannya melalui sebuah kisah sederhananya yang memiliki ambiguitas tinggi. Genius! Dan karena beliaulah saya ingin menjadi seseorang yang jujur pada tulisan ini dalam proses pembelajaran saya.
* * *

Bandung, 08 Agustus 2005